Jumat, 30 Agustus 2013

BJ HABIBIE: ICMI SATUKAN POTENSI UMAT



Mantan presiden Indonesia yang ketiga. Bacharuddin Jusuf Habibie saat memberi sambutan pada acara silaturahim Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) di kediaman, Jakarta, Senin (22/7)

Jakarta, 15 Ramadhan 1434/23 Juli 2013 (MINA) – Mantan presiden Indonesia yang ketiga sekaligus pendiri Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Bacharuddin Jusuf Habibie menceritakan bahwa awal mula didirikannya ICMI adalah untuk menyatukan potensi umat Islam yang saat itu membutuhkan tempat untuk berkreasi.
“Kami adalah salah satu dari beberapa orang yang menggagas berdirinya ICMI ini. Pada tahun 1990, kami bersama para tokoh lain berkumpul dan menyepakati pendirian organisasi untuk para cendikiawan muslim di Indonesia,” ungkapnya saat memberi sambutan pada acara silaturahim ICMI di kediaman, Jakarta, Senin (22/7).
B.J. Habibie mengungkapkan bahwa pada waktu itu (tahun 1990) orang yang pertama kali menggagas perlunya wadah untuk para cendikiawan muslim itu bukanlah dirinya, melainkan seorang anak muda, mahasiswa asal Universitas Brawijaya bernama Erik Salman.
“Ia (Salman) mengutarakan kepada saya tentang perlunya sebuah wadah untuk para cendikiawan muslim untuk menjawab tantangan dalam masyarakat. Umat Islam saat itu banyak mempunyai permasalahan, mulai dari ekonomi, sosial, politik, dan masih banyak lagi,” tambah Ketua Dewan Kehormatan ICMI itu.
Ulama yang juga merupakan professor di bidang pesawat terbang itu menjelaskan, Indonesia menjadi salah satu negara yang diperhitungkan oleh masyarakat internasional dengan adanya ICMI ini.
“Dengan adanya ICMI, Indonesia mulai dilirik oleh media-media dunia. Mereka tidak hanya melihat huru hara di Rusia atau di negara-negara Timur Tengah. Dengan hadirnya ICMI, Indonesia menjadi negara yang diperhitungkan masyarakat Internasional,” ungkap wakil Presiden dan juga Presiden Indonesia dengan masa jabatan terpendek itu.

Sumber : Mi’raj News Agency (MINA) 


Senin, 26 Agustus 2013

ICMI : WORKSHOP HIJRAH MORAL UNTUK KEBANGKITAN INDONESIA


MARTAPURA. Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang terlahir pada tanggal 7 Desember 1990 di Kota Malang dan dideklarasikan oleh BJ Habibie, bukanlah sebuah kebetulan belaka, akan tetapi bertalian erat dengan arus zaman yang semakin deras, baik di kawasan lokal, nasional hingga dunia internasional. Dari pertemuan 22 tahun yang lalu inilah, melahirkan sebuah wadah yang menampung para generasi baru kaum santri yang intelek, berwawasan, berbudaya kelas menengah serta mendapat tempat pada institusi-institusi modern.
Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Organisasi Daerah ICMI Kabupaten Banjar, H Pangeran Abidinsyah S.Sos MM, ketika menyampaikan sambutan tertulis Bupati Banjar, dalam acara Pembukaan Workshop ICMI Hijrah Moral Untuk Kebangkitan Indonesia, Sabtu 15 September 2012, di Aula Barakat, Martapura.
Menurut Abidinsyah, agar keberadaan ICMI benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas, maka ICMI bertekad tidak sekedar menjual program semata, tapi yang terpenting adalah aplikasi. ICMI mampu bergerak dan tetap istiqamah hingga sekarang berkat dukungan dari Dewan pakar serta para alim ulama. Program ke depan adalah membentuk Pengurus-pengurus ICMI di tingkat kecamatan.
Dia berharap, agar seluruh anggota pengurus ICMI dan masyarakat pada umumnya selalu mengukuhkan tali silaturrahim. Yang pada akhirnya, para cendikiawan muslim dapat masuk ke jajaran birokrasi pemerintahan, karena tujuan pembentukan ICMI untuk mewujudkan tata kehidupan masyarakat Indonesia yang madani di bawah ridha ALLAH SWT, dengan cara meningkatkan mutu keimanan dan ketaqwaan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam.
Sebelumnya, Ketua Orwil ICMI Kalimantan Selatan Hasan Zain SPp, dalam sambutan singkatnya menjelaskan bahwa degradasi moral bangsa saat ini semakin memprihatinkan, contohnya korupsi yang merasuk ke sendi-sendi terkecil kehidupan masyarakat, hal ini disebabkan manusia terjangkit satu penyakit, yakni penyakit cinta dunia dan takut akan mati.


sumber : humas kab banjar