| Mantan presiden Indonesia yang ketiga. Bacharuddin Jusuf Habibie saat memberi sambutan pada acara silaturahim Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) di kediaman, Jakarta, Senin (22/7) |
Jakarta, 15 Ramadhan
1434/23 Juli 2013 (MINA) – Mantan presiden Indonesia yang ketiga sekaligus
pendiri Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Bacharuddin Jusuf Habibie
menceritakan bahwa awal mula didirikannya ICMI adalah untuk menyatukan potensi
umat Islam yang saat itu membutuhkan tempat untuk berkreasi.
“Kami adalah
salah satu dari beberapa orang yang menggagas berdirinya ICMI ini. Pada tahun
1990, kami bersama para tokoh lain berkumpul dan menyepakati pendirian
organisasi untuk para cendikiawan muslim di Indonesia,” ungkapnya saat memberi
sambutan pada acara silaturahim ICMI di kediaman, Jakarta, Senin (22/7).
B.J. Habibie
mengungkapkan bahwa pada waktu itu (tahun 1990) orang yang pertama kali
menggagas perlunya wadah untuk para cendikiawan muslim itu bukanlah dirinya,
melainkan seorang anak muda, mahasiswa asal Universitas Brawijaya bernama Erik
Salman.
“Ia (Salman)
mengutarakan kepada saya tentang perlunya sebuah wadah untuk para cendikiawan
muslim untuk menjawab tantangan dalam masyarakat. Umat Islam saat itu banyak
mempunyai permasalahan, mulai dari ekonomi, sosial, politik, dan masih banyak
lagi,” tambah Ketua Dewan Kehormatan ICMI itu.
Ulama yang
juga merupakan professor di bidang pesawat terbang itu menjelaskan, Indonesia
menjadi salah satu negara yang diperhitungkan oleh masyarakat internasional
dengan adanya ICMI ini.
“Dengan
adanya ICMI, Indonesia mulai dilirik oleh media-media dunia. Mereka tidak hanya
melihat huru hara di Rusia atau di negara-negara Timur Tengah. Dengan hadirnya
ICMI, Indonesia menjadi negara yang diperhitungkan masyarakat Internasional,”
ungkap wakil Presiden dan juga Presiden Indonesia dengan masa jabatan terpendek
itu.
Sumber : Mi’raj News Agency (MINA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar